“kau akan datang Bay?”.Suara yang lembut dengan intonasi tanya yang halus ke bayu dari seorang wanita disampingnya.
“well,ku anggap iya kalau begitu”
Bayu hanya terdiam.Bahkan melihat mata si wanita itu pun tidak.
“congrates Sin.”
“after all this time and you just only could say congrates to me?It’s been 12 years and I still do not know you yet bay.”
“even, having a time to understand you enough aku g bisa.”tambah sinta
Sore itu sinta dan Bayu hanya duduk berdua disebuah kursi panjang di pantai pasir putih.Satu sisi satu sama lain.Tidak berdekatan seperti kebanyakan pasangan lain.
“this sunset looks gorgeous,doesn’t it Sin?”Bay mencoba tersenyum tapi sekali lagi dya tidak melihat mata lawan bicaranya ini.
“bagian mana yang kau sebut indah ini?”balas Sinta
“lihatlah dengan seksama!kebanyakan orang melihat sunset pada kilau meganya yang menenangkan.Tapi sedikit yang melihat dibawahnya bahwa masih ada laut biru yang terbiaskan oleh warnanya sehingga menguning.Lumba-lumba yang berenang mencari kehangatan.ataupun burung camar yang hendak pulang itu.Sedikit yang melihatnya bukan?”
“kau selalu melihat sesuatu dari sudut pandangmu bay.dan sudut pandangmu itu selalu keluar dari sisi kebanyakan orang lain dalam melihat.I think that’s why I couldn’t understand you Bay?”
“aku tak berpikir ini salah atau menyalahkan orang lain atas perbedaan ini.Aku hanya mencoba melihat sesuatu dari kacamata dunia sin.beginilah caraku melihat dunia dan begitulah cara mereka melihat dunia.Tiap orang menemukan kecintaannya masing-masing pada dunia.Bukankah begitu?”
“dan apakah dengan begitu kamu menemukan cintamu terhadap dunia ini bay?”
“Orang bilang cinta tak harus memilki bukan?”
“dan menurut hematmu itu benar-benar tak harus dimiliki bukan memiliki.Bukankah begitu Bay kalau aku tidak salah menfsirkan semuanya?”
Bay hanya terdiam.Keduanya bercakap seolah mereka bercakap dengan matahari yang makin tenggelam dibarat sana.
“Orang menikah bukan berarti bahwa mereka telah memiliki cinta mereka Bay”
“it’s more than that Bay.Egomu terlalu sulit untuk aku pahami Bay”
“so don’t Sin if you couldn’t!”
“tapi, apakah berarti seorang ibu juga tidak harus memiliki anak yang dia cintai Bay?Bagaimana bisa seorang kesatria tidak memiliki negara yang dia cintai jika harus begitu?berarti dia masih terjajah dan itu adalah hal yang tidak seorang kesatria pun ingin terima”
“Maybe I’m wrong about one thing”imbuh Bayu
“it’s not onething Bay but whole thing.”
“is it that much?”
“yes bay”
“im sorry Sin”.tanpa bayu sadari dan sinta ketahui ada cairan keluar dari bola mata itu.Mata Lelaki yang menatap matahari dengan langsung.Pedih.
“So,when will it be held sin?”
“next Sunday Bay at St Vicentus church 9 a.m. I expect much you could come Bay”
“I hope so.But…”kalimat yang tak diteruskan oleh bayu.
“Kenapa Bay?what this all means to you?”
“you may not ask that”
“kenapa tidak Bay?” satu lagi air menetes.Kali ini dari Sinta dan bukan dari Bayu.
“you’ll be marry immidietly sin.”
“and it will be different Bay if a word came from a person I expect on my life I have all this time.”
Keduanya masih menatap matahari yang serasa enggan memakai selimutnya untuk terlelap dimalam hari.
Keduanya teriasak dan memerah namun samasekali tak menyadarinya.
“since junior high till now.Its such a fool I am Bay.I’m wasting my time on something I coouldnt expect for.Dan bolehkah aku berharap kesempatan itu akan datang menjemputku?masihkah ada kesempatan itu Bay?Ehm maksudku, Adakah kesempatan itu akan muncul setidaknya hanya sekali meski aku pun tahu aku tak akan bisa menerima kesempatan itu?”
“No.You may not Sin.You may not expect it.”
“hah bodohnya aku.Kenapa aku mengatakan ini?Aku tahu kata itu tak akan muncul dan tak akan pernah ada darimu.”
Thanks Bay for all you’ve done to me.Thanks for being my friend all this time.Wait, we are friend,arent we?”
“Of course Sinta”air mata Bayu tak terbendung sudah.Kali ini keduanya sadar bahwa pipi mereka telah benar-benar basah oleh air mata
“of course a friend.How stupid I am” balas Sinta
“I have to go.Good bye Bayu”
Sinta kemudian beranjak dari kursi itu.Berjalan meninggalkan bayu sendiri di tempat mereka tadi berbincang.Sinta menangis.Ya tentu dia menangis, begitu juga dengan Bayu.
Selembar kertas kota tergeletak ditempat dimana Sinta tadi duduk.Bayu meraih dan membukanya.Bayu menangis,terisak dan tak bisa membendung lagi air mata yang keluar.
“I Love You Sinta”
“I love You sinta.I, I could finally say it”
“I’m sorry sinta”
Bayu tahu Sinta tak kan bisa mendengar kalimatnya ini.Kertas merah undangan dari Sinta telah basah karena air mata bayu.Dan bayu tak terus mengucap I love you and I’m sorry terus menerus senja itu.
THE END




